Anyaman
lontar adalah anyaman yang dibuat dari daun lontar dan sudah berkembang sejak
zaman dahulu. Anyaman Lontar ini hanya terdapat di wilayah Desa Suradadi
Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Bahan baku anyaman lontar ini tidak
terdapat di Desa Suradadi, tetapi didatangkan dari pulau tetangga yakni Pulau
sumbawa. Bagaimana asal mula anyaman lontar ini sehingga hanya terdapat di Desa
Suradadi dan tidak terdapat di desa desa lain?. Konon
ceritanya ada seorang yang berasal dari Suradadi pergi merantau ke Pulau
Sumbawa, karena pada waktu itu Pulau Sumbawa masih lebih banyak hutan
belantaranya, akhirnya dia pulang dengan tangan kosong, dia hanya membawa
oleh-oleh berupa daun lontar yang akan dijadikan sebagai kertas rokok, karena
merokok dengan menggunakan daun lontar aromanya sangat harum. Melihat suaminya
pulang dengan tangan hampa, maka sang istri marah sambil merobek robek daun lontar
yang dibawa suaminya. Sambil menangis sang istri mencoba menganyam lontar yang
telah dirobek robeknya itu sehingga menjadi sebuah tutup nasi (tebolaq).
Karena anyaman yang dibuatnya itu bagus maka
dibelilah oleh tetangganya sehingga keluarga tersebut dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Adanya prospek tutup nasi (tembolak) yang di
buatnya itu bagus maka sang isteri menyuruh suaminya ke Sumbawa mencari daun
lontar lagi. Akhirnya sang suami membawa banyak daun lontar
dan sang isteri mengajarkan cara menganyam kepada tetangga dekatnya. Berangkat
dari sanalah daun lontar mulai dijadikan anyaman untuk membuat berbagai jenis
kebutuhan rumah tangga seperti tembolak, songkoq
(topi), hiasan dinding, tas, kempu, ceraken dan alat alat lainnya.
Kaum pria Warga desa Suradadi bekerja sebagai petani,
sementara wanita dan anak-anak membuat kerajinan anyaman daun lontar untuk
menambah penghasilan keluarga. Kerajinan ini telah dipasarkan tidak hanya di
sekitar pulau Lombok tetapi juga dapat anda jumpai di Bali bahkan telah diekspor
ke beberapa negara.
Pohon lontar
· Waktu : 09.30 sampai selesai
· Tempat : Desa Suradadi, kecamatan Terara
· Alat-alat :
1. Pejangka atau alat pengiris
2. Silet atau cutter
3. Penyusuk atau tusukan
1. Daun lontar satu pucuk
2. Celup pewarna
1. Buanglah
tulang dan bagian dalam daun lontar dengan menggunakan silet atau pisau
pengiris.
2. Irislah
daun lontar dengan alat pengiris atau pejangka agar bentuk dan besar irisannya
sama. Kira-kira lebarnya 0,5 cm.
3.
Rebus daun lontar pada air
mendidih yang telah di beri celup/ pewarna, kemudian irisan lontar tersebut
didinginkan sampai kering,
4. Buatlah gelang dari tulang daun
lontar dengan diameter 4-5
5.
Anyamlah lontar tersebut dengan
mengikuti pola empat dua dan empat tiga untuk tempat botol kecil.
a. Mula’ (permulaan)
b. angkat 1,2,
c. kuncir
d. pakan (penambahan daun lontar)
dan siwer (menutup anyaman)
e. konje (mengunci dengan alat penusuk)
|
|
6. Potonglah
bagian-bagian
dari daun lontar
yang kelihatan panjang untuk merapikan anyaman
7. Kemudian buatlah gantungan atau
pegangan dengan tulang daun lontar, kemudian anyamlah supaya kelihatan rapi.
8. Buatlah leher untuk menguatkan
botol.
Dalam segi harga,
ini sangat tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang dihabiskan. Modal: Harga 1
pucuk daun rotan : Rp. 6000.
Celup atau Pewarna :
Rp. 2000. +
Modal : Rp.
8000,
Dalam 1 pucuk ini bisa menjadi 2 kodi (1 kodi= 20 buah). 1
kodi dihargakan dengan Rp. 10.000, jadi 1 buah seharga dengan Rp. 500. sehingga
hasil yang diperoleh dari 1 pucuk adalah Rp. 20.000, dikurangi dengan modal,
jadi untungnya adalah Rp. 12.000 tetapi itu dikerjakan dalam kurang lebih empat
hari karena dalam sehari seorang pengrajin dapat membuat lima buah.
Nama-nama pengrajin yang berhasil
kami wawancarai:
1.
Baiq Santi (kelas 3 SLTP)
2.
Baiq Puja (kelas 3 SLTP)
3.
Baiq Nurhasanah (40 tahun)
4.
Baiq Asmah (50 tahun)
5.
Baiq Sahnun (31 tahun)