Kamis, 31 Mei 2012

KERAJINAN ANYAMAN DAUN LONTAR SURADADI



*        PROFIL



Anyaman lontar adalah anyaman yang dibuat dari daun lontar dan sudah berkembang sejak zaman dahulu. Anyaman Lontar ini hanya terdapat di wilayah Desa Suradadi Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Bahan baku anyaman lontar ini tidak terdapat di Desa Suradadi, tetapi didatangkan dari pulau tetangga yakni Pulau sumbawa. Bagaimana asal mula anyaman lontar ini sehingga hanya terdapat di Desa Suradadi dan tidak terdapat di desa desa lain?. Konon ceritanya ada seorang yang berasal dari Suradadi pergi merantau ke Pulau Sumbawa, karena pada waktu itu Pulau Sumbawa masih lebih banyak hutan belantaranya, akhirnya dia pulang dengan tangan kosong, dia hanya membawa oleh-oleh berupa daun lontar yang akan dijadikan sebagai kertas rokok, karena merokok dengan menggunakan daun lontar aromanya sangat harum. Melihat suaminya pulang dengan tangan hampa, maka sang istri marah sambil merobek robek daun lontar yang dibawa suaminya. Sambil menangis sang istri mencoba menganyam lontar yang telah dirobek robeknya itu sehingga menjadi sebuah tutup nasi (tebolaq).
Karena anyaman yang dibuatnya itu bagus maka dibelilah oleh tetangganya sehingga keluarga tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Adanya prospek tutup nasi (tembolak) yang di buatnya itu bagus maka sang isteri menyuruh suaminya ke Sumbawa mencari daun lontar lagi. Akhirnya sang suami membawa banyak daun lontar dan sang isteri mengajarkan cara menganyam kepada tetangga dekatnya. Berangkat dari sanalah daun lontar mulai dijadikan anyaman untuk membuat berbagai jenis kebutuhan rumah tangga seperti tembolak, songkoq (topi), hiasan dinding, tas, kempu, ceraken dan alat alat lainnya.
Kaum pria Warga desa Suradadi bekerja sebagai petani, sementara wanita dan anak-anak membuat kerajinan anyaman daun lontar untuk menambah penghasilan keluarga. Kerajinan ini telah dipasarkan tidak hanya di sekitar pulau Lombok tetapi juga dapat anda jumpai di Bali bahkan telah diekspor ke beberapa negara.
                                                            Pohon lontar
*      CONTOH
*        PENELITIAN
·      Waktu     : 09.30 sampai selesai
·      Tempat    : Desa Suradadi, kecamatan Terara
·      Alat-alat :
1.      Pejangka atau alat pengiris

2.      Silet atau cutter

3.      Penyusuk atau tusukan
                
*      Bahan-bahan:

1.      Daun lontar satu pucuk

2.      Celup pewarna

*      Cara pembuatan anyaman tempat botol:

1.    Buanglah tulang dan bagian dalam daun lontar dengan menggunakan silet atau pisau pengiris.
2.    Irislah daun lontar dengan alat pengiris atau pejangka agar bentuk dan besar irisannya sama. Kira-kira lebarnya 0,5 cm.
3.    Rebus daun lontar pada air mendidih yang telah di beri celup/ pewarna, kemudian irisan lontar tersebut didinginkan sampai kering,

4.    Buatlah gelang dari tulang daun lontar dengan diameter 4-5




5.    Anyamlah lontar tersebut dengan mengikuti pola empat dua dan empat tiga untuk tempat botol kecil.

a.    Mula’ (permulaan)
b.    angkat 1,2,

c.     kuncir

d.   pakan (penambahan daun lontar) dan siwer (menutup anyaman)
e.     konje (mengunci dengan alat penusuk)


6.    Potonglah bagian-bagian dari daun lontar yang kelihatan panjang untuk merapikan anyaman




7.    Kemudian buatlah gantungan atau pegangan dengan tulang daun lontar, kemudian anyamlah supaya kelihatan rapi.
       

8.    Buatlah leher untuk menguatkan botol.

                   
*        BIAYA

Dalam segi harga, ini sangat tidak sesuai dengan tenaga dan waktu yang dihabiskan. Modal: Harga 1 pucuk daun rotan :   Rp. 6000.  
                   Celup atau Pewarna            :   Rp. 2000.    +
                   Modal                                 :    Rp.  8000,
Dalam 1 pucuk ini bisa menjadi 2 kodi (1 kodi= 20 buah). 1 kodi dihargakan dengan Rp. 10.000, jadi 1 buah seharga dengan Rp. 500. sehingga hasil yang diperoleh dari 1 pucuk adalah Rp. 20.000, dikurangi dengan modal, jadi untungnya adalah Rp. 12.000 tetapi itu dikerjakan dalam kurang lebih empat hari karena dalam sehari seorang pengrajin dapat membuat lima buah.
*        NAMA-NAMA PENGRAJIN

Nama-nama pengrajin yang berhasil kami wawancarai:
1.      Baiq Santi (kelas 3 SLTP)
2.      Baiq Puja (kelas 3 SLTP)
3.      Baiq Nurhasanah (40 tahun)
4.      Baiq Asmah (50 tahun)
5.      Baiq Sahnun (31 tahun)
*      DOKUMENTASI    PENELITIAN